Terang Dunia #1 – Allah Penyelamat & Pemelihara

Posted on

Yoh. 8:12-20
Pdt. J. Putratama Kamuri

Setelah Yesus memberi makan roti untuk orang-orang itu, barulah Dia mengklaim keilahian-Nya dengan berkata: “Akulah roti hidup.”

Pada bagian ini kita akan menemukan sedikit modus yang berbeda, yaitu Yesus berkata “Aku adalah terang dunia” dan setelah itu baru diakhiri dengan mujizat mencelikkan mata orang buta (pasal 9). Tetapi pada intinya mujizat adalah alat yang dipakai oleh Kristus untuk mengkonfirmasi klaim-klaim-Nya, entah klaim mengenai keilahian-Nya atau klaim mengenai penebusan yang akan Dia kerjakan. Jadi mujizat tidak dilakukan demi mujizat itu sendiri, tetapi dilakukan untuk satu tujuan yaitu, mengonfirmasi bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus adalah benar.

Dalam kasus mengenai Terang Dunia, konteks di dalam ayat 1-11 sebenarnya menarik. Meskipun Yesus tidak memulai dengan membuat mujizat, tetapi Dia memberi petunjuk kepada kita mengenai signifikannya klaim “Aku adalah terang dunia.” Jika kita memerhatikan kritik teks sampai hari ini, banyak orang mengkritisi teks ini dan kemudian pasal 8:1-11 dianggap sebagai tambahan. Memang kita tidak akan menemukan pasal 8:1-12 pada teks yang paling tua. Tetapi jika seandainya memang bagian ini tidak ada di dalam Kitab yang asli, maka klaim Yesus menjadi janggal. Yohanes harus menempatkan teks ini untuk memberi petunjuk kepada kita mengenai kegelapan moral dan spiritual manusia, barulah Yesus menegaskan bahwa Dia adalah terang dunia. Maka teks ini adalah teks yang sangat tepat untuk diletakkan sebelum Yesus berkata “Aku adalah terang dunia.” Teks di dalam pasal 8:1-11 menggambarkan kepada kita mengenai kebutaan spiritual manusia, kegelapan secara moral yang akut yang dialami oleh manusia. Kegelapan moral diwakili oleh orang-orang berdosa, orang-orang yang jelas terlihat sebagai orang berdosa. Tetapi kegelapan secara spiritual justru diwakili oleh pemimpin-pemimpin agama (ay. 1-11). Mereka adalah otoritas religius namun mereka gagal untuk mengenal siapa Kristus dan siapa Allah yang sejati, mereka menolak Kristus sebagai utusan Allah, mereka memanfaatkan agama untuk kepentingan mereka. Ketika Yesus menjungkirbalikkan meja-meja pedagang di Bait Allah, masalah utama bukan karena dagangannya, tetapi ada dua persoalan:

Pertama, perdagangan terjadi di dalam tempat di mana orang-orang non-Yahudi beribadah. Tidak ada penghargaan terhadap orang non-Yahudi dan ibadah orang non-Yahudi akan terganggu.

Kedua, pajak yang sangat besar ditetapkan untuk penjualan di dalam Bait Allah pada zaman itu dan yang mendapatkan keuntungan dari pajak yang besar itu adalah pemimpin-pemimpin agama. Maka kita dapat melihat ada kegelapan moral dan spiritual, bahkan masuk sampai ke Bait Allah. Di dalam konteks inilah Yesus Kristus menegaskan identitas-Nya sebagai terang dunia. Dia adalah jawaban bagi masalah universal manusia, yaitu kegelapan moral dan kegelapan spiritual. Kegelapan secara intelektual atau dapat disebut kebodohan, bisa disadari oleh dirinya dan orang lain sehingga ada guru sebagai solusinya. Maka kegelapan jenis ini dapat diatasi oleh manusia. Tetapi ada dua kegelapan yang tidak bisa diatasi oleh manusia, yaitu kegelapan moral dan spiritual. Hal ini mungkin disadari oleh manusia. Ketika seseorang melakukan kejahatan atau dosa kita menjadi resah atau mungkin kita terdampak oleh kejahatan dan dosa tersebut sehingga kita mengeluh, bahkan terkadang kita sadar bahwa kita adalah orang yang jahat dan berdosa. Karl Marx sadar akan hal ini sehingga saya kira kritik Karl Marx sampai hari ini masih sangat relevan. Karl Marx sangat peka Ketika melihat fenomena agama.

Pertama, Karl Marx berkata bahwa agama adalah candu karena pada masa itu banyak sekali orang yang menggunakan harta kekayaan mereka untuk mengeksploitasi buruh. Setelah buruh dieksploitasi, mereka datang ke gereja tetapi gereja tidak menolong mereka untuk melawan penindasan. Gereja hanya menghibur mereka dan seolah mengatakan tidak apa- apa kehilangan segala sesuatu di dalam dunia ini, yang penting ketika mati masuk surga. Ajaran seperti ini membuat mereka tidak bisa melawan situasi sosial hari itu yang sangat buruk. Orang-orang masuk ke dalam gereja hanya untuk berharap masuk surga dan tidak berharap bagaimana hidup di dalam dunia ini, bahkan tidak berharap melawan ketidakadilan.

Gereja harus hadir di dalam dunia untuk memberitakan kerajaan Allah, termasuk di dalamnya mengajak jemaat dan masyarakat untuk melawan ketidakadilan. Karl Marx melihat dengan jelas bahwa gereja hari itu bungkam. Mereka hanya menjanjikan surga kepada masyarakat, kepada para buruh sehingga para buruh tidak melawan situasi sosial hari itu. Seharusnya gereja mengajak mereka untuk melawan ketidakadilan. Tetapi para buruh sudah merasa cukup puas memiliki jaminan untuk masuk surga. Akhirnya gereja menjadi sekelompok orang yang seolah tidak dibutuhkan. Gereja boleh ada dan boleh tidak ada, padahal Ketika Kristus berkata bahwa “Kamu adalah garam dunia”, Yesus memakai dua unsur yang memberikan petunjuk kepada kita bahwa gereja tidak boleh tidak ada. Gereja tidak boleh hanya berurusan dengan sorga, tetapi juga harus berurusan dengan dunia dan menjadi garam dan terang. Tetapi Karl Marx berkata bahwa setelah orang masuk ke dalam gereja dan tidak mengerjakan apapun di dalam kehidupan sosialnya, maka agama adalah candu. Kedua, Karl Marx berkata bahwa agama hanya bagian dari ekonomi. Dia berkata bahwa fondasi dari segala sesuatu adalah ekonomi. Segala institusi yang dibangun di atas fondasi ekonomi hanyalah institusi yang digerakkan oleh ekonomi. Motif ekonomi inilah yang menggerakkan segala sesuatu seperti politik dan agama. Pada masa itu pemimpin-pemimpin agama korupsi seperti pada zaman Tuhan Yesus, bahkan juga ada sampai hari ini. Ada perdebatan mengenai perpuluhan. Ada pendeta yang dikritisi karena perpuluhan diambil dan dikelola sendiri untuk dirinya. Jika kita melihat di dalam Alkitab, perpuluhan bukan diberikan untuk pendeta agar dia gunakan secara personal. Tetapi untuk membela diri, pendeta itu mengkritisi gereja terutama gereja-gereja mainstream dan berkata bahwa jika diberi uang perpuluhan, pendeta juga pasti tidak akan menolak. Dia memakai cara pikirnya yang salah untuk digeneralisasikan kepada seluruh pendeta. Inilah yang dikritisi oleh Karl Marx. Orang dapat beragama dan agama digerakkan oleh faktor-faktor ekonomi. Kritik yang masih sangat relevan. Karl Marx bagai nabi bagi ateis, dan dia berbicara dari dalam Kekristenan karena dia mantan orang Kristen. Orang seperti ini sadar ada yang tidak beres secara rohani dan moral, bahkan di dalam gereja. Tetapi Karl Marx tidak dapat menyelesaikan masalah moral dan masalah spiritual di dalam dan di luar gereja.

Banyak yang memakai kritik Karl Marx untuk membela buruh karena pemikirannya memang jelas berbicara mengenai kaum buruh dan kaum yang ada di atas para buruh. Tetapi apakah pemikiran ini menyelesaikan masalah? Tidak juga. Jadi orang bisa sadar ada masalah moral dan spiritual, tetapi mereka tidak bisa menyelesaikannya. Kegelapan intelektual bisa diselesaikan, kegelapan moral dan spiritual tak bisa diselesaikan oleh manusia, maka Yesus Kristus berkata bahwa Dia adalah terang dunia, ini adalah sebuah klaim yang sangat monumental karena Dia mau berkata bahwa Dia adalah solusi bagi kegelapan moral dan kegelapan secara spiritual yang tidak bisa diatasi oleh manusia.

Ketika Dia mengatakan hal ini dan kemudian pada pasal 9 Dia menyembuhkan orang yang buta sejak lahir, pertama, ini adalah peristiwa yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak pernah ada seorang nabi menyembuhkan mata orang buta, apalagi orang buta sejak lahir. Kemudian Yesus menyembuhkan mata orang buta itu untuk membuktikan bahwa Dia adalah terang dunia. Maka di dalam pasal 9 sekali lagi Dia berkata bahwa Dia adalah terang dunia. Ini juga merupakan klaim yang sinkron dengan pendapat Yohanes di dalam pasal 1:4-5. Yohanes ingin mengatakan bahwa Kristus adalah terang bagi manusia. Dia adalah kebutuhan esensial manusia sebagaimana kita membutuhkan terang pada siang maupun malam, kita juga membutuhkan Kristus sebagai sebuah kebutuhan yang esensial baik siang maupun malam. Di dalam Alkitab istilah siang atau malam mengacu kepada totalitas kehidupan kita dari pagi sampai pagi lagi. Dialah yang memberi hidup kepada kita (ay. 4). Lalu kemudian dikatakan bahwa terang ini adalah terang yang tidak mungkin bisa dikalahkan oleh kegelapan. Sebaliknya, terang ini adalah terang yang mengalahkan kegelapan. Menarik bahwa klaim yang signifikan ini diucapkan di dalam suatu konteks: Pertama, ia mengucapkannya pada hari raya Pondok Daun. Hari raya ini dirayakan selama 7 hari oleh orang Yahudi untuk mengingat kembali pemeliharaan Allah di padang gurun. Karena ini adalah hari sukacita, pada waktu itu orang-orang yang terhormat, orang bijak, dan suci, mereka menarik jubah mereka yang panjang sampai ke atas lutut lalu berjalan atau berlari. Hal ini sebenarnya memalukan bagi mereka. Tetapi pada hari raya Pondok Daun, karena sukacitanya besar maka orang-orang yang terhormat ini ikut menari dari malam sampai pagi. Dan pada saat mereka menari, mereka juga harus menarik jubahnya. Artinya tidak ada lagi yang lebih terhormat daripada merayakan dan menikmati sukacita yang telah Allah berikan di dalam sejarah bangsa ini. Dan di dalam ayat 20 Dia mengatakannya di dekat perbendaharaan. Mengapa ini perlu dicatat? Karena di dekat perbendaharaan ada empat kandil besar untuk meletakkan lilin atau membuat obor yang besar untuk menerangi seluruh Bait Allah dari malam sampai pagi. Bahkan ada penulis yang mengatakan bahwa terang itu bercahaya dengan begitu besar. Bukan hanya menerangi Bait Allah, tetapi juga menerangi seluruh Yerusalem. Di tengah-tengah situasi di mana orang- orang mengingat pimpinan dan pemeliharaan Allah, Yesus berkata bahwa Dia adalah terang dunia. Jika terang ini adalah terang yang menerangi Bait Allah, bahkan seluruh Yerusalem, maka Yesus jauh melampaui terang itu.

Di dalam PL, Tiang Awan dan Tiang Api memimpin Israel selama 40 tahun sampai akhirnya mereka menjejakkan kakinya di tanah perjanjian. Pada saat hari raya Pondok Daun, mereka bersuka cita mengingat pemeliharaan Tuhan dan pimpinan Tuhan. Maka api yang dinyalakan di sana adalah simbol dari Tiang Awan dan Tiang Api. Sehingga Ketika Yesus berkata bahwa Dia adalah terang dunia, Dia menegaskan kepada Israel hari itu dan kepada kita bahwa Dia adalah Tiang Awan dan Tiang Api sejati yang memimpin manusia – Israel maupun non-Israel – dan seluruh dunia, bukan menuju kepada tanah Kanaan yang sekarang sudah mereka miliki, tetapi menuju kepada Kanaan surgawi. Oleh sebab itu Yesus dapat berkata “Akulah jalan kebenaran dan hidup.” Klaim ini menggoncang orang-orang hari itu sehingga kita dapat melihat Ketika Yesus berkata “Akulah terang dunia”, orang Farisi langsung berdiri dan melawan Dia. Farisi adalah orang yang belajar Firman Tuhan dengan teliti sehingga mereka disebut penafsir dan mereka juga dianggap sebagai penjaga kemurnian Taurat hari itu. Oleh karena Yesus mengucapkan kalimat yang sangat monumental maka mereka berdiri dan melawan Yesus.

Mengapa klaim ini begitu menggoncang bagi orang banyak hari itu, termasuk pemimpin-pemimpin agama yang mengerti Kitab Suci PL?

Pertama, klaim ini adalah klaim keilahian Kristus. Dia menyatakan bahwa diri-Nya adalah Allah, maka mereka memberontak melawan Dia. Mereka belum menangkap Yesus karena belum waktunya. Tetapi ini adalah klaim yang berpotensi membuat Yesus ditangkap karena ini adalah hujat kepada Allah jika seandainya Yesus bukan Allah. Maka ini bukan hanya klaim monumental tetapi juga klaim yang meresikokan diri-Nya sendiri.

Maz. 27:1 mengatakan bahwa Allah adalah terang. Lalu kata siapa Yesus tidak pernah klaim bahwa dia adalah Allah? Bahkan orang yang bukan Kristen yang melawan Kekristenan dengan mengatakan Yesus tidak pernah mengklaim keilahian, di dalam kitab sucinya pun dikatakan bahwa Allah adalah terang. Klaim Yesus “Aku adalah terang dunia” berbicara mengenai Allah yang hadir di tengah dunia untuk menyatakan terang dan terang ini tidak mungkin gagal. Tetapi jika Dia mengaitkan diri-Nya juga dengan Tiang Awan dan Tiang Api berarti Dia ingin mengatakan bahwa Dia adalah Allah yang menyertai nenek moyang mereka berjalan menuju ke Kanan. Di dalam pasal 8 Yesus berkata “sebelum Abraham ada, Aku sudah ada” karena Dia adalah Tiang Awan Tiang Awan itu. Tiang Awan dan Tiang Api adalah tipologi Kristus tapi bagi saya juga berbicara mengenai teofani atau kehadiran Kristus di dalam PL yang menyertai nenek moyang Israel. Tiang Awan dan Tiang Api bukan Allah, dan Allah bukanlah Tiang Awan dan Tiang Api. Tetapi Allah memilih untuk menyatakan diri-Nya di dalam Tiang Awan dan Tiang Api.

Mengapa orang-orang Israel melawan Dia hari itu? Karena kalimat ini terlalu keras yang sulit dipahami dan diterima oleh pemimpin-pemimpin ibadah hari itu. Namun ini adalah klaim keilahian Kristus. Allah memelihara begitu sempurna sehingga di padang gurun yang panas umat Allah tetap bisa mendapatkan kenyamanan di dalam perjalanan. Pada malam hari ketika begitu dingin dan ada begitu banyak binatang liar, Dia hadir sebagai Tiang Api yang menghangatkan mereka sekaligus memberikan kepada mereka perspektif untuk melihat binatang-binatang buas dan beracun yang membahayakan mereka. Sehingga Musa menggambarkannya dengan kalimat: “selama 40 tahun kamu berjalan kasutmu tidak rusak bajumu tidak perlu diganti dan seterusnya.” Pemeliharaan yang sempurna. Sehingga ketika Dia berkata “Aku adalah terang dunia”, Dia ingin mengatakan bahwa Dia adalah Allah yang hadir di tengah umat-Nya untuk menyelamatkan dan memelihara mereka di dalam perjalanan spiritual maupun di dalam pergumulan- pergumulan mereka secara lahiriah.

Ketika Yesus manggil mereka untuk mengikut Dia (ay. 12), ini adalah sebuah panggilan untuk datang kepada Kristus. Bukan hanya untuk menikmati keselamatan, tetapi supaya kita menikmati pemeliharaan Allah secara spiritual maupun secara lahiriah.

Ketika Yesus berkata “Aku adalah terang dunia”, Dia adalah tempat pertama di mana kita bisa datang untuk mendapatkan penghiburan dan juga pengharapan. Kita mendapatkan perlindungan dari Allah karena terang dunia dikaitkan dengan Tiang Awan dan Tiang Api. Hal ini bukan hanya menunjukkan kehadiran Allah, tetapi keberpihakan Allah. Paulus berkata, jika Allah dipihak kita siapa lawan kita? Kuasa kegelapankah? Kematian? Penderitaan? Tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih karunia Kristus karena Dia adalah terang dunia. Dia adalah Allah yang hadir di tengah-tengah umat-Nya. Dia Memelihara, menyelamatkan, dan melindungi mereka secara rohani maupun secara spiritual. Dia juga adalah Allah yang tidak mungkin gagal. Maka seharusnya kita tidak perlu terintimidasi oleh orang yang mengatakan Yesus tidak pernah klaim bahwa Dia adalah Allah. Jika Dia tidak pernah klaim, maka Dia tidak akan pernah disalibkan oleh orang Yahudi karena dianggap sebagai penghujat Allah.

Kedua, kalimat ini di sampaikan oleh Yesus dalam konteks hari raya Pondok Daun, kemudian dikaitkan dengan terang Tiang Awan dan Tiang Api. Terang yang di ada di dalam lokasi perbendaharaan Bait Allah hanya sanggup untuk menerangi Bait Allah atau paling maksimal menerangi seluruh Yerusalem. Tetapi Yesus berbicara mengenai terang dunia, terang untuk bangsa-bangsa. Maka ini bukan hanya sebuah klaim keilahian tetapi klaim bahwa Dia adalah pribadi yang dijanjikan untuk menggenapi janji Allah di dalam PL. Yes. 42:1-6 berkata bahwa Allah adalah terang dan mengutus hamba yang menyatakan terang bagi bangsa-bangsa. Yes. 49:6 & Yes. 51:4 juga berbicara mengenai hamba Tuhan yang menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Terang ini tidak dibatasi di dalam wilayah Israel secara geografis, tetapi sampai ke ujung-ujung bumi.

Ketika Yesus mengatakan “Aku adalah terang dunia”, Dia berkata bahwa hari ini janji di dalam Yesaya tergenapi di dalam diri-Nya. Tidak ada orang Israel yang berani untuk mengaku atau berbicara sedemikian. Yesus berkata bahwa Dia adalah penggenapan janji Allah yang dijanjikan kepada seorang nabi yang besar, yaitu Yesaya.

Yesus adalah hamba yang diutus oleh Allah untuk menerangi dunia ini. Maka mau tidak mau Dia harus menjalani pelayanan sebagai hamba yang menderita. Ini menarik karena jika Dia berkata bahwa Dia adalah hamba yang menjadi terang, maka kita akan mendapati bahwa terang dunia ini pernah ditelan oleh kegelapan. Yohanes berkata terang itu memberi hidup kepada manusia dan terang itu tidak pernah bisa dikalahkan oleh kegelapan. Namun satu kali di atas bukit Golgota terang dunia ini seolah ditelan dan dikalahkan oleh kegelapan.

Sebelum Yesus Kristus ditangkap di taman Getsemani, Ia berkata kepada murid-murid-Nya bahwa inilah kuasa kegelapan itu. Iblis bekerja untuk membawa Dia ke atas Golgota. Kuasa kegelapan bekerja keras di dalam kehidupan manusia untuk memengaruhi manusia melawan Allah di dalam Kristus.

Pada peristiwa penyaliban Yesus Kristus, kita dapat melihat kegelapan moral dan kegelapan spiritual menguasai manusia sehingga institusi hukum dan politik berdiri untuk melawan Allah di dalam Kristus. Terang itu seolah-olah telan ditelan oleh kegelapan kerajaan gelap, ditelan oleh kegelapan moral dan spiritual manusia sehingga Dia harus dibawa ke atas bukit Golgota, dan terang ini seolah-olah telah ditelan oleh kegelapan alam semesta sehingga selama tiga jam gelap menaungi bukit Golgota.

Sampai hari ini sejarah mengakui pernah ada kegelapan selama tiga jam hari itu, tetapi tidak bisa menjelaskan mengapa kegelapan itu bisa terjadi.

Saya kira Yesus juga ditolak oleh kegelapan yang benar-benar mengekspresikan kegelapan dunia, yaitu murka Allah. Gal. 3:13 berkata terkutuklah orang yang tergantung di atas kayu salib, dan orang itu adalah Kristus. Allah seolah berdiri sebagai oposisi dari Anak- Nya sendiri. Allah memurkai sang Anak. Terang dunia ini harus berhadapan dengan kegelapan yang begitu pekat.

Jika Dia adalah terang dunia, maka kita harus ingat bahwa sejak hari pertama penciptaan sudah ada terang, bahkan sebelum matahari diciptakan karena terang itu berasal dari Allah. Matahari bukanlah sumber terang. Matahari mendapatkan terangnya dari Allah. Allah menjadikan matahari sebagai alat untuk menerangi bumi, tetapi tidak berarti bahwa sumber dari segala terang adalah matahari. Kitab Kejadian memberi petunjuk ini kepada kita untuk menegaskan bahwa Allah adalah terang.

Di dalam Kol. 2:13-15 Paulus berbicara mengenai peristiwa salib yang dilihat orang sebagai kegelapan telah menelan pribadi yang menyebut diri sebagai terang dunia, namun bagian ini memberi petunjuk kepada kita bahwa di dalam kegelapan yang paling pekat ini terang Kristus bercahaya dengan begitu jelas dan kita harus melihatnya dengan mata iman kita sebagai orang percaya.

Kis. 4:27-28 mengatakan bahwa perlawanan mereka tidak terjadi di luar penetapan Allah. Dari dalam diri mereka, mereka melawan Allah namun perlawanan mereka terahadap Allah tidak menggagalkan rencana Allah, termasuk rencana Allah untuk menyatakan terang di dalam dunia ini melalui Kristus. Perlawanan mereka justru pada akhirnya menggenapi rencana Allah. Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang gagal. Ia tidak bisa ditelan oleh kegelapan dunia ini. pemberontakan manusia tidak mungkin bisa menggagalkan rencana Allah.

Di dalam konteks yang paling gelap dan paling sulit Yesus telah menyatakan terang Allah dengan sangat jelas. Dia adalah penggenap janji Allah mengenai hamba yang menyatakan terang di dalam dunia yang gelap.

Apakah hari ini kita bergumul dengan dosa kita? Ataukah kita mengasihi seseorang dan kita ingin supaya mereka mengalami pengalaman dilepaskan dari kegelapan secara spiritual? Kristus berkata “Akulah terang dunia.” Kita tidak bisa melepaskan mereka dari situasi itu tanpa Kristus. Tidak ada pemimpin agama yang sanggup untuk melakukan hal ini. Tugas pendeta hanya satu, yaitu memberitakan Kristus yang adalah terang dunia supaya kita berespon dan kemudian Dia menerangi dan memimpin kehidupan kita (Yes. 51:4).

Di dalam konteks seluruh PL dan PB, kita akan diarahkan kepada satu arah, yaitu hidup di dalam terang sebagai anak-anak terang. Kebutuhan utama dunia ini adalah Yesus.

Yesus tahu bahwa Dia sementara mengatakan sesuatu yang melampaui kapasitas berpikir orang-orang hari itu untuk memahami Firman Allah. Dia adalah Allah dan Dia adalah pribadi yang dijanjikan oleh Allah untuk membawa terang bagi dunia ini.

Ketiga, Ketika Dia berkata bahwa Dia adalah terang dunia, berarti setiap kita berhadapan dengan Dia, kita akan sadar siapa diri kita. Terang itu akan menelanjangi dan membongkar apa yang menjadi kegelapan di dalam hati kita.

Istilah “membongkar dosa” tidak harus diterjemahkan secara negatif, karena setiap kali berjumpa dengan Allah yang suci, manusia yang berdosa pasti sadar dia berdosa. Sehingga jika Yesus berkata bahwa Dia adalah terang dunia, maka ada satu indikasi: jika kita mengenal Dia, maka kita akan sadar bahwa kita adalah orang berdosa.

Dia menerangi dunia ini dengan menelanjangi dosa mereka supaya mereka sadar bahwa mereka adalah orang berdosa lalu mereka datang dan meresponi Dia dengan benar. Tidak selalu dosa yang diekspose Allah itu mempermalukan kita, kecuali kita tidak bertobat. Tetapi dosa itu dibongkar oleh Allah supaya kita insyaf terhadap dosa itu (ay. 14-19).

Dosa begitu pekat di dalam pikiran mereka sehingga mereka tidak tahu dari mana Yesus datang dan kemana Yesus pergi. Mereka tidak kenal Yesus karena mereka tidak paham tentang rencana Allah. Seolah Yesus ingin mengatakan jika mereka ingin paham dan kenal siapa diri-Nya, maka mereka harus paham apa yang dijanjikan di dalam PL. Iironis sekali karena yang berhadapan dengan Dia adalah Farisi, para penjaga Taurat. Lalu apa yang selama ini Farisi ajarkan? Ini adalah kritik yang sangat keras. Karena mereka berhadapan dengan terang dunia, maka terang dunia itu membongkar siapa mereka, apa yang ada di dalam pikiran mereka, kegelapan pikiran mereka yang tidak mengenal Allah yang sejati, dan rencana Allah yang sejati ini dibongkar oleh Kristus.

Istilah “manusia” dalam kalimat “menghakimi menurut ukuran manusia” (Yoh. 8:15) juga dapat diterjemahkan “daging” (Yun. sarkov). Jadi ukuran mengapa mereka tidak dapat mengenal Dia pertama- tama karena mereka tidak mengerti PL. Kedua, mereka menilai Yesus berdasarkan tradisi manusia dan bukan berdasarkan kebenaran Firman Allah. Dua kritik ini berbicara mengenai tuntutan Allah supaya kita mengenal Dia melalui Firman. Maka ada ruang bagi kita mengkritisi orang yang ingin mengenal Allah tanpa melalui Firman. Yohanes berkata tidak ada orang yang naik ke surga untuk mengenal Allah dan Yesus sendiri berkata tidak ada orang yang melihat Bapa untuk menjelaskan kepada kita mengenai Bapa. Maka saya yakin adalah sebuah dusta jika ada pendeta yang mengatakan pernah melihat Allah dan kemudian memberitakan Allah kepada kita. Bagaimana bisa ada pendeta yang mengajar sesuatu yang bertentangan dengan Kitab Suci? Tetapi memang Firman Tuhan datang kepada kita untuk menegaskan mengenai dosa kita, mengenai pikiran yang buta dan gelap supaya kita sadar dan kembali kepada Tuhan. Yesus mengajak kita untuk menikmati terang itu, berjumpa dengan terang itu melalui kebenaran Firman Allah.

Poros dari seluruh kehidupan kita adalah Firman Tuhan, karena melaluinya kita berjumpa dengan terang dunia, terang Allah yang sejati agar kita tahu bagaimana berjalan di dalam dunia ini. Lalu bagaimana pergaulan kita dengan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari? Yang saya kuatirkan kita justru menjauh dari standar Allah, kita menjauh dari terang yang Allah berikan kepada kita supaya kita tahu bagaimana hidup di dalam dunia yang gelap. Tetapi Yesus memiliki dua kritik: Pertama, pikiran mereka terlalu gelap sehingga tidak mengerti rencana Allah. Kegelapan pikiran itu tampak dari standar yang mereka pakai untuk menilai Yesus, yaitu tradisi, sehingga mereka tidak mengenali Yesus. Jika standar yang mereka pakai adalah Firman, maka mereka akan kenal siapa Yesus. Kedua, akar dari seluruh persoalan ditempatkan pada ayat 19, yaitu jangan harap kenal Bapa jika Yesus yang sedang berdiri di depan mereka itu tidak mereka kenali. Orang yang ingin mengenal Bapa haruslah melalui Yesus. Tidak bisa kenal melalui jalan yang lain. Oleh sebab itu Yesus berkata bahwa yang tahu tentang Bapa hanya Anak dan Roh Kudus.

PL mencatat bahwa setiap kali ada perjumpaan- perjumpaan dengan Allah secara langsung dan orang itu masih hidup, biasanya itu adalah Teofani. Oknum kedua Allah Tritunggal hadir dan berjumpa dengan manusia. Tetapi Allah Bapa selalu berkata jika manusia melihat wajah-Nya secara langsung, manusia itu akan mati. Maka jika ada pendeta yang berkata berjumpa dengan Allah secara langsung dan masih hidup, saya yakin dia berjumpa dengan allah palsu. Dan jika seseorang berkata bahwa dia jumpa dengan Kristus, pertanyaannya adalah Kristus yang mana?

Alkitab berkata bahwa perjumpaan dengan Bapa terjadi melalui Kristus dan perjumpaan dengan Kristus terjadi melalui kebenaran Firman Allah. Bagaimana respon kita yang seharusnya?

Respon kita dicatat di dalam ayat 12. Solusinya hanya satu, yaitu berjumpa dengan terang dan memiliki terang hidup dalam hidup itu. Tetapi supaya memiliki terang di dalam hidup kita, maka kita harus mengikut Dia. Istilah “mengikut” berarti kita percaya kepada Dia. Tetapi jika kita percaya Dia, berarti kita tidak mungkin tidak percaya kepada Allah Tritunggal. Penginjilan akan membawa perjumpaan kepada Kristus dan perjumpaan dengan Kristus selalu membawa orang kepada pengenalan terhadap Bapa dan pengenalan terhadap Bapa akan membawa kita semakin lama semakin sadar bahwa ada oknum yang ketiga, yaitu Roh Kudus. Maka tidak mungkin orang Kristen sejati yang sudah diselamatkan tidak percaya Allah Tritunggal. Adalah dusta jika seorang menyebut diri Kristen sejati dan telah menikmati keselamatan dalam Kristus, tetapi menolak Allah Tritunggal. Jika kita ingin menikmati terang itu, kita harus percaya kepada Kristus. “Mengikuti” berarti percaya dan juga taat.

Pertama, kata “mengikuti” (Yun. akolouyew) sering dipakai untuk tentara ketika berhadapan dengan panglimanya. Sebenarnya prinsip yang sama berlaku ketika Yesus menggunakan kata tersebut. Pada masa itu seorang tentara pasti tunduk kepada panglimanya. Hal ini bericara mengenai ketaatan yang mutlak, bukan ketaatan buta yang diminta Yesus dari kita. Dia berkata bahwa kita hanya bisa berjalan di dalam terang jika kita mengenal Dia. Setelah kita mengenal Yesus Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat maka seharusnya kita tunduk secara mutlak karena Dia adalah Allah. Allah memiliki hak untuk ditaati dan diikuti kemanapun Dia pergi. Kenali dahulu, barulah taat.

Di dalam tradisi Reformed memang dikatakan bahwa percaya dahulu, baru mengerti. Tetapi kita hanya bisa percaya jika kita sudah mengenal Dia dengan benar. Kalimat yang Yesus katakan adalah jika hari ini kita sudah kenal Dia, maka kita harus tunduk dan taat secara mutlak.

Kedua, “mengikuti” (Yun. akolouyew) juga adalah kata yang sering digunakan untuk para budak yang berjalan menyertai tuannya. Apapun yang diperintahkan oleh tuannya harus ditaati, termasuk ketika tuannya menyuruh budak itu untuk mati. Tuan bukan hanya sekedar pemimpin, tetapi juga pemilik. Budak hari itu seolah tidak ada harganya. Tetapi tidak berarti bahwa kita sama sekali tidak memiliki harga. Prinsip yang mau diambil adalah kita taat secara mutlak kepada Allah dan karena kita sadar bahwa seluruh hidup yang kita hidupi adalah milik Tuhan. Apakah ada tanda kepemilikan Tuhan di dalam kehidupan kita? Pekerjaan utama Roh Kudus adalah memimpin di dalam kekudusan berdasarkan Firman Allah supaya kita berjalan di dalam kekudusan. Hal ini tidak boleh tidak terjadi di dalam diri orang-orng yang memiliki meterai atau tanda kepemilikan Allah. Dia tidak akan memberikan kita karunia untuk melayani sampai semua orang terkagum-kagum tapi pada saat yang sama kita hidup di dalam dosa.

Ketiga, “mengikuti” (Yun. akolouyew) juga berbicara mengenai orang-orang yang dianggap tidak bijak pada masa itu ketika berhadapan dengan orang bijak. Ketika mereka berhadapan dengan orang bijak, mereka akan mendengar apa yang dikatakan dan mereka akan melakukannya.

Kita tidak memiliki pilihan yang lain kecuali taat. Yesus berkata bahwa kita hanya bisa menjadi anak-anak terang jika berjalan di dalam terang. Maka sebagai Hamba Tuhan, saya menyampaikan apa yang benar dan kemudian mendorong kita semua untuk mengerjakan apa yang Tuhan minta, yaitu kita berjalan di dalam kebenaran karena dengan demikian kita berjalan di dalam terang.

Salah satu ciri kita telah berjumpa dengan Kristus sebagai terang dunia adalah kehadiran Roh Kudus untuk memimpin kita berjalan di dalam terang Firman.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – YC)